PUISI TAHUN KE 3
Mei 5, 2009
dewiqur
UAN bagi saya pribadi merupakan hal yang banyak kelemahannya – khususnya dari pihak anak, OT dan guru – daripada keuntungannya (hanya menguntungkan pihak tertentu saja). Standarisasi kelulusan seolah hanya ditentukan dalam satu dua hari saja oleh pemerintah, padahal hanya pihak sekolah lah yang sebenarnya tahu sejauh mana kemampuan anak didik mereka. Pemerintah seharusnya tidak menentukan standar kelulusan dengan UAN tersebut, tapi biarlah sekolah masing2 yang MEMBUAT/MENENTUKAN standar kelulusan untuk sekolah mereka sendiri.
Perlu diingat pula, bahwa dalam belajar, yang penting itu PROSES nya, BUKAN hasil. Proses sejauh mana anak mengerti akan apa yang sedang/telah dipelajarinya. “Hasil” bisa dimanipulasi.
Kita bisa lihat keadaan di Indonesia selama ini. Jangan anggap bahwa di negara kita ini orang yang pintar, cerdik cendekiawan atau apalah namanya itu sedikit. IQ mereka di atas rata2. Tidak!!! Jumlahnya sangat banyak. Tetapi mengapa KKN merajalela. Menurut saya, inilah salah satu penyebabnya: dunia pendidikan yang hanya mementingkan HASIL ketimbang proses. SDM kita sangat2 kacau!!!! Perlu diingat bahwa peran IQ dalam menentukan keberhasilan hanyalah 20% (Menurut studi di USA), lainnya ditentukan kecerdasan yang lain khusnya EQ (emotional quantum). Tapi syukurlah masih ada beberapa sekolah (yang saya lihat di Jakarta, khususnya sekolah swasta) yang mulai menerapkan unsur2 dalam pendidikan dan sungguh2 memantaunya.
Saya dengar bahwa di Indonesia sekarang ini, anak SD pun sudah harus mengikuti UAN (tahun 2008/2009??????)). Sebagai mantan guru, saya sangat sedih sekali. Dunia anak adalah dunia bermain, mengembangkan faktor2 psikologis mereka, mengembangkan empati dan sebagainya (EQ). Pendidikan harusnya dibuat “fun”, bukan “momok” yang menakutkan. Saya juga sangat sedih bilamana melihat/mendengar bahwa masih ada OT atau guru yang bangga bahwa siswa mereka yang masih TK sudah bisa baca ini or itu dengan lancar. Belajar perlu bertahap sesuai perkembangan anak sebab bila tidak, anak bisa bosan. Tidak semua anak yang dianggp cerdas atau pandai saat SD/SMP akan cerdas/pandai saat mereka kuliah nanti. Banyak anak yang juara kelas waktu sekolah tapi saat kuliah tidak bisa mengerti apa2 atau malas2 an, tidak punya inisiatif dll. Inilah akibatnya kalau segala ssuatu terlalu dipaksakan.
Saya masih ingat, saat kerja di sekolah dimana kita harus mementukan ranking/peringkat anak di tempat saya kerja, sungguh beban bagi saya. masih banyak yang menganggpa bahwa “hasil” lah yang paling penting sampai banyak OT yang berantem hanya karena anaknya tidak mendapat ranking. Saya juga masih ingat ketika setelah usai mengajar, saya masih harus kasih les tambahan bagi mereka. bayangkan anak SD sudah harus mulai belajar dari pukul 7 sampai 1.30 an dan setelah itu masih ada les tambahan di sekolah. Belum les2 lainnya dengan guru privat mereka di rumah. Masih ingat pula saat memberikan les privat dimana anak harus menghafal berbagai macam definisi yang bikin mabuk. Belum PR dll. Di negara maju, pendidkan memang sangatlah jauh beda dengan di negri kita. Di sini anak diajarkan untuk tidak selalu “menerima” seperti di negara kita tetapi untuk selalu berusaha “mencari” dan “menemukan”. Dan pendidikan memang sangatlah dibuat fun di sini.
Reply With Quote
Entry Filed under: Uncategorized
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed